Sore itu, hari rabu (17/6), suasana di sebuah warung kopi sederhana di kawasan Medoho Raya, Semarang, terasa hangat. Beberapa pelanggan tampak menikmati kopi sambil berbincang ringan. Di sudut warung, Slamet Riyanto duduk santai ditemani segelas kopi hitam yang masih mengepulkan aroma khas.
Ketika wartawan menanyakan pandangannya tentang Program Koperasi Merah Putih yang sedang digencarkan pemerintah, Slamet sempat terdiam beberapa saat. Ia menyeruput kopinya, lalu meletakkan gelas perlahan di atas meja.
“Kalau soal koperasi, saya sebenarnya senang, Mas,” ujarnya membuka percakapan.
Menurut Slamet, sejak dulu koperasi dikenal sebagai wadah ekonomi rakyat yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan anggota. Karena itu, ia memahami mengapa pemerintah kembali mendorong gerakan koperasi sebagai salah satu solusi penguatan ekonomi masyarakat.
“Setahu saya, koperasi itu tujuannya baik. Anggotanya dibantu supaya lebih sejahtera. Kalau anggota sejahtera, keluarganya ikut sejahtera, masyarakat sekitar juga ikut merasakan manfaatnya,” katanya.
Suara kendaraan yang lalu lalang di Jalan Medoho sesekali terdengar memecah suasana. Namun Slamet tetap melanjutkan ceritanya dengan nada tenang.
Baginya, yang menjadi pertanyaan bukanlah tujuan koperasinya, melainkan bagaimana pelaksanaannya nanti di lapangan.
Ia lalu menunjuk ke arah deretan warung dan toko kecil yang berdiri di sekitar kawasan tersebut.
“Coba lihat saja. Di kampung-kampung sekarang sudah banyak warung dan toko kecil yang menjadi sumber penghasilan warga. Mereka hidup dari usaha itu,” ujarnya.
Slamet kemudian menjelaskan bahwa para pedagang kecil saat ini sudah menghadapi persaingan yang tidak ringan. Mereka harus berhadapan dengan minimarket modern, toko grosir besar, hingga agen distribusi yang memiliki modal jauh lebih kuat.
“Sudah ada Indomaret, Alfamart, Alfamidi, grosir besar, dan lain-lain. Persaingan sudah ketat. Nah, kalau nanti koperasi juga bergerak di bidang yang sama, jangan sampai malah menjadi pesaing baru bagi pedagang kecil,” katanya.
Ia kembali menyeruput kopinya. Wajahnya tampak serius, seolah sedang membayangkan nasib para pedagang yang setiap hari berjuang menjaga usahanya tetap bertahan.
“Misalnya koperasi bisa memberikan fasilitas utang atau pembayaran angsuran kepada anggotanya. Sementara pedagang kecil tidak mampu melakukan itu karena keterbatasan modal. Tentu masyarakat akan lebih memilih yang memberi kemudahan,” tuturnya.
Menurut Slamet, kondisi seperti itu bisa menimbulkan kekhawatiran di kalangan pedagang kecil.
“Mereka bisa berpikir, ‘Waduh, kalau koperasi bisa begini sementara saya tidak bisa, bagaimana usaha saya nanti?’ Itu yang saya khawatirkan,” ujarnya.
Meski menyampaikan kritik, Slamet menegaskan bahwa dirinya tidak menolak program pemerintah tersebut. Ia justru berharap Koperasi Merah Putih dapat menjadi mitra yang memperkuat usaha rakyat.
“Kalau menurut saya, koperasi lebih baik membantu pedagang kecil mendapatkan barang yang lebih murah, akses modal yang lebih mudah, atau membantu pemasaran. Jadi koperasi hadir untuk menguatkan, bukan mengambil pasar yang sudah ada,” katanya.
Matahari mulai turun di ufuk barat. Warung kopi semakin ramai oleh pelanggan yang datang selepas bekerja. Sebelum mengakhiri perbincangan, Slamet menyampaikan satu harapan sederhana.
“Saya percaya pemerintah punya niat baik. Tinggal bagaimana pelaksanaannya nanti. Yang penting, jangan sampai rakyat kecil yang selama ini berusaha mencari nafkah justru merasa tersisih. Kalau koperasi bisa menjadi sahabat pedagang kecil, saya yakin manfaatnya akan jauh lebih besar.”
Percakapan sore itu pun berakhir. Segelas kopi Slamet hampir habis. Namun dari meja kecil di warung kopi Medoho, tersimpan sebuah pesan yang sederhana: pembangunan ekonomi akan lebih bermakna ketika kemajuan baru hadir tanpa meninggalkan mereka yang telah lebih dulu berjuang. (Hd)










