Semarang, binnews.id – Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi dunia jurnalistik. Hal tersebut disampaikan tokoh nasional, wartawan Senior Dr. H.Bambang Sadono SH, MH, saat menjadi narasumber dalam Seminar Nasional Jurnalistik 2026 yang digelar di Aula Kampus STIKOM Semarang.
Menurut Bambang, transformasi profesi wartawan di era digital tidak dapat dihindari. Kehadiran AI justru dapat menjadi alat yang sangat membantu pekerjaan jurnalistik apabila dimanfaatkan secara tepat.
“Digital dan AI sangat membantu profesi jurnalistik. Kalau dimanfaatkan dengan baik, AI bisa mempercepat pekerjaan, memperkaya produksi konten, dan membantu mencari data. Tetapi wartawan tetap harus menambahkan kekhasan, sudut pandang, dan pengalaman pribadi agar karya jurnalistik tidak menjadi seragam,” ujarnya, minggu (21/6).
Ia menegaskan bahwa AI tidak akan melemahkan profesi wartawan apabila digunakan secara bijak. Sebaliknya, teknologi dapat meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya operasional media.
Sebagai contoh, Bambang mengaku kini dapat melakukan wawancara dengan tokoh-tokoh nasional maupun internasional tanpa harus melakukan perjalanan yang memerlukan biaya besar.
“Dulu untuk datang dan mewawancarai narasumber saja biayanya sangat mahal. Sekarang cukup dari kantor, bahkan dari rumah, kita bisa berdiskusi dengan tokoh di Jakarta atau luar negeri melalui teknologi digital,” katanya.
Bambang juga menjelaskan bahwa sistem kerja media saat ini telah berubah. Banyak penulis dan editor bekerja dari berbagai daerah tanpa harus berada dalam satu kantor yang sama.
“Karyawan saya sebagian tidak berada di kantor. Ada penulis di Solo, ada di Jogja, editor di Surabaya. Ini menunjukkan teknologi telah membuat biaya operasional menjadi jauh lebih efisien,” jelasnya.
Meski demikian, ia mengingatkan para wartawan dan mahasiswa jurnalistik agar tidak hanya mengandalkan teknologi. Menurutnya, kualitas karya dan integritas tetap menjadi faktor utama yang menentukan masa depan profesi wartawan.
“Saya berharap teman-teman memanfaatkan ekosistem komunikasi digital untuk meningkatkan kualitas karya, bukan justru memperlemah profesi ini. Wartawan harus tetap kreatif, kritis, dan menjaga independensi,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Bambang juga menyoroti kondisi industri media yang saat ini menghadapi berbagai tantangan. Banyak media besar yang mengalami penurunan bahkan kolaps akibat perubahan ekosistem bisnis media.
“Kita menyaksikan banyak media besar yang dulu berjaya kini mengalami kesulitan. Ini memang membuat profesi wartawan terlihat kurang menarik bagi sebagian mahasiswa. Namun yang perlu dipahami, yang terpenting adalah kemampuan dan kualitas wartawannya, bukan hanya medianya,” ujarnya.
Menurut Bambang, wartawan yang memiliki kompetensi dan karya berkualitas akan tetap dibutuhkan meskipun platform atau media tempatnya bekerja mengalami perubahan.
“Media hanyalah etalase. Yang dijual sebenarnya adalah kualitas karya para penulisnya. Kalau kualitas kita bagus, pasti akan tetap dicari dan memiliki tempat,” katanya.
Menutup paparannya, Bambang berpesan kepada mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM Semarang) agar terus mengasah kemampuan menulis, memperluas wawasan, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai dasar jurnalisme.
“Teknologi akan terus berubah, tetapi kualitas, integritas, dan kemampuan jurnalistik yang baik akan selalu dibutuhkan,” pungkasnya. (Hardi)











