Semarang, binnews.id — Kemacetan parah yang terjadi di kawasan Jatingaleh hingga Gombel memicu sorotan publik terhadap pelaksanaan proyek Jalan Gombel Lama. Penutupan total ruas tersebut sejak 20 April 2026 dinilai tidak diimbangi dengan manajemen lalu lintas yang memadai.
Sejumlah pengendara mengeluhkan kemacetan panjang yang terjadi setiap hari, terutama pada jam sibuk. Pengalihan seluruh arus kendaraan ke Jalan Gombel Baru, yang memiliki lebar terbatas dan kontur menanjak, menyebabkan penumpukan kendaraan hingga Flyover Jatingaleh.
Kondisi diperburuk dengan perubahan sistem jalan dari satu arah menjadi dua arah di Gombel Baru. Skema ini memunculkan titik penyempitan (bottleneck) yang berdampak pada perlambatan ekstrem bahkan kemacetan total.
Seorang pengendara mengaku mengalami dampak langsung akibat kondisi tersebut. “Macetnya parah banget sampai saya dehidrasi,” ujarnya, sabtu (2/5).
Selain itu, keberadaan kendaraan berat seperti truk yang tetap melintas di jalur tanjakan juga dinilai memperparah situasi. Tidak jarang kendaraan mengalami mogok di tengah kemacetan, sehingga memperlambat arus lalu lintas secara keseluruhan.
Sejumlah pihak menilai proyek Jalan Gombel Lama ini kurang memperhitungkan dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat. Minimnya rekayasa lalu lintas yang efektif serta kurangnya pembatasan kendaraan berat di jalur alternatif menjadi catatan penting dalam pelaksanaan proyek ini.
Meski Dinas Perhubungan dan kepolisian telah mengimbau penggunaan jalur alternatif seperti Tol Jatingaleh–Srondol dan jalur Tembalang–Undip–Jangli, namun di lapangan banyak pengendara tetap terjebak kemacetan karena keterbatasan akses dan kurangnya informasi yang merata.
Proyek yang diperkirakan berlangsung selama tujuh bulan ini berpotensi memperpanjang penderitaan pengguna jalan jika tidak segera diikuti evaluasi serius dari pihak terkait. Penguatan manajemen lalu lintas, penambahan petugas di lapangan, serta pembatasan kendaraan berat dinilai menjadi langkah mendesak yang perlu dilakukan.
Masyarakat berharap pemerintah tidak hanya fokus pada penyelesaian proyek fisik, tetapi juga memastikan kenyamanan dan keselamatan pengguna jalan selama proses pengerjaan berlangsung. (Red)











