Masuknya Islam ke Cina merupakan salah satu bukti kuat bagaimana agama ini menyebar secara damai lewat jalur diplomasi dan perdagangan. Sejarah mencatat, pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan, tepatnya sekitar tahun 651 Masehi, seorang sahabat Nabi Muhammad SAW bernama Sa’ad bin Abi Waqqash melakukan kunjungan resmi ke Kaisar Gaozong dari Dinasti Tang.
Kunjungan itu bukan hanya membawa pesan persahabatan, tetapi juga memperkenalkan ajaran Islam kepada penguasa negeri tirai bambu. Kaisar menyambut baik utusan dari dunia Arab dan memberikan izin untuk mendirikan masjid pertama di Cina. Masjid Huaisheng, yang berarti “masjid untuk mengenang sang nabi,” didirikan di Guangzhou dan hingga kini masih berdiri menjadi simbol awal kehadiran Islam di sana.

Masuknya Islam ke Cina tidak lepas dari peran Jalur Sutra yang menghubungkan Timur Tengah dengan Asia Timur. Para pedagang Muslim menyebarkan agama ini melalui interaksi budaya dan ekonomi, bukan dengan penaklukan. Dari pelabuhan Guangzhou hingga ke jantung kota kuno Xi’an, Islam berkembang menjadi bagian dari masyarakat lokal.
Di berbagai kota tua di Cina, jejak arsitektur dan komunitas Muslim masih terlihat jelas. Etnis Hui yang tersebar di banyak wilayah Cina menjadi contoh keberhasilan integrasi Islam dalam budaya Cina, sementara komunitas Uighur di Xinjiang mencerminkan akar sejarah Islam yang kuat di wilayah barat.
Lebih dari 1.300 tahun berlalu, Islam tetap menjadi bagian dari sejarah panjang peradaban Cina. Kisahnya menjadi pengingat bahwa penyebaran agama bisa berjalan melalui dialog dan penghargaan antarbudaya.
(HRD)











