Lombok Timur, NTB –
Sosok Ali Mustafa, seorang pemandu wisata atau turgait yang mendampingi Juliana Marins, pendaki asal Brasil yang tewas usai terjatuh ke jurang Gunung Rinjani, kini menjadi sorotan publik. Ia diduga lalai dan meninggalkan korban sendirian, hingga insiden tragis itu tak dapat dihindari. Namun, Ali membantah tuduhan tersebut.
Juliana Marins (29) diketahui menggunakan jasa Ali Mustafa bersama lima pendaki lainnya untuk mendaki Gunung Rinjani pada Sabtu, 21 Juni 2025. Untuk jasa pendakian tersebut, korban dan rombongan membayar sebesar Rp2,5 juta. Ali Mustafa sendiri disebut telah berprofesi sebagai turgait selama dua tahun, dan kerap mempromosikan layanannya melalui aplikasi luar negeri.
Dalam penjelasannya yang dikutip dari media Brasil O Globo pada Kamis, 26 Juni 2025, Ali Mustafa mengaku tidak pernah meninggalkan Juliana secara sengaja. Ia mengatakan bahwa saat itu menyarankan korban untuk beristirahat karena terlihat kelelahan, sementara dirinya berjalan lebih dulu untuk menunggu sedikit lebih jauh di depan.
“Saya katakan kepadanya bahwa saya akan menunggunya di depan. Saya menyuruhnya untuk beristirahat,” ujar Ali Mustafa.
Namun, setelah menunggu sekitar 15 hingga 30 menit dan Juliana tak kunjung menyusul, Ali kembali ke lokasi terakhir tempat istirahat korban, tapi Juliana sudah tidak ada. Saat mencari, ia mengaku melihat cahaya senter di dasar jurang dan mendengar suara Juliana meminta pertolongan.
“Saya menyadari dia telah jatuh ketika saya melihat senter di jurang sedalam sekitar 150 meter, dan mendengar suara Juliana meminta bantuan. Saya berusaha mati-matian memberi tahu dia agar tetap bertahan menunggu pertolongan,” jelas Ali.
Ali juga menyatakan telah segera menghubungi pihak perusahaan operator pendakian tempat ia bekerja untuk melaporkan insiden tersebut dan meminta bantuan evakuasi. Namun, proses penyelamatan berlangsung lambat. Juliana baru berhasil dievakuasi pada hari keempat setelah kejadian dan ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.
Pihak Satuan Reserse Kriminal Polres Lombok Timur (Satreskrim Lotim) telah memeriksa Ali Mustafa pada Rabu dan Kamis, 25–26 Juni 2025. Hingga kini, penyelidikan masih berlangsung untuk mengungkap apakah terdapat unsur kelalaian dalam kejadian tersebut.
Insiden ini memunculkan kekhawatiran publik mengenai standar keselamatan wisatawan asing di jalur pendakian Indonesia, terutama terkait pendampingan oleh pemandu lokal. Banyak pihak menilai, pendaki asing yang belum familiar dengan medan ekstrem seharusnya tidak dibiarkan berjalan sendiri.
Disusun oleh Redaksi binnews.id
Editor: Hardi











