NGAWI – Pemandangan tak biasa terlihat di SD Negeri Dempel 1, Desa Dempel, Kecamatan Geneng, Kabupaten Ngawi, pada Senin, 14 Juli 2025, yang merupakan hari pertama masuk sekolah tahun ajaran baru 2025/2026.
Hanya satu siswa baru yang datang untuk mengikuti kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Ia adalah Azzam Khalif Putra, bocah berusia 7 tahun yang kini tercatat sebagai satu-satunya murid kelas 1 di sekolah tersebut.
Meski datang sendirian, Azzam tetap semangat mengikuti kegiatan. Ia disambut hangat oleh para guru serta kakak kelas. Guru kelas I, Rumpini, mendampinginya secara penuh agar anak tidak merasa kesepian.
“Kami tetap jalankan MPLS meskipun hanya satu siswa. Ini menjadi bentuk tanggung jawab kami sebagai pendidik,” ujar Kepala SDN Dempel 1, Endang Kurniasih, kepada media, Senin (14/7).
Kondisi Sekolah Sepi Murid
Berdasarkan data sekolah, total murid di SDN Dempel 1 kini hanya 17 orang, tersebar di kelas 1, 2, 4, dan 6. Dua tingkat kelas lainnya—kelas 3 dan 5—kosong sepenuhnya karena tidak ada siswa.
Penyebabnya antara lain:
Lokasi sekolah yang berada di ujung desa dan jauh dari pusat keramaian.
Peminatan warga yang condong ke sekolah lain yang dianggap lebih unggul.
Kebijakan zonasi yang membatasi siswa luar desa untuk mendaftar di SDN Dempel 1.
Minimnya lembaga PAUD/TK di wilayah setempat yang membuat anak usia dini belum siap masuk SD.
Tanggapan Dinas Pendidikan
Menanggapi hal ini, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ngawi menyampaikan bahwa mereka akan mengambil langkah jangka panjang. Salah satunya adalah membangun TK di sekitar SDN Dempel 1 agar bisa menjadi feeder sekolah.
“Ke depan jika kondisi seperti ini terus berulang, bisa saja dilakukan regrouping sekolah. Namun saat ini kami tetap dukung sekolah-sekolah kecil agar tetap berjalan,” ujar Zaenal Fanani, Kepala Bidang SD, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Ngawi, saat dikonfirmasi pada Selasa (15/7/25)
Fenomena yang Meluas
Kondisi ini bukan hanya terjadi di SDN Dempel 1. Sedikitnya terdapat enam SD Negeri di Kabupaten Ngawi yang hanya menerima satu siswa baru untuk kelas 1 pada tahun ajaran 2025/2026.
Fenomena ini menjadi sorotan karena mencerminkan tantangan serius dunia pendidikan dasar di daerah pedesaan yang ditinggal migrasi urban, penurunan angka kelahiran, dan kurangnya ekosistem PAUD.
(Red)











