Denpasar, binnews.id — Hujan ekstrem sejak Selasa malam (9/9) hingga Rabu dini hari memicu banjir besar dan longsor di berbagai wilayah Bali. Data sementara mencatat 6–8 orang meninggal dunia, ratusan warga dievakuasi, dan infrastruktur mengalami kerusakan berat.
Empat korban tewas akibat tertimpa bangunan yang roboh di Pasar Kumbasari, Denpasar. Dua korban lain ditemukan di Jembrana, sementara sisanya berasal dari wilayah terdampak lain. Lebih dari 800 warga ditampung di posko pengungsian yang tersebar di Denpasar, Gianyar, Tabanan, Karangasem, dan Jembrana.
Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, menetapkan status tanggap darurat bencana selama tujuh hari.
“Prioritas utama adalah menyelamatkan warga, membuka akses jalan, dan memenuhi kebutuhan dasar di posko pengungsian,” tegasnya, rabu (10/9).
Dari pemerintah pusat, Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menyatakan dukungan penuh.
“BNPB telah menyalurkan bantuan darurat sebesar Rp5 miliar untuk logistik, evakuasi, dan kebutuhan mendesak warga,” ujarnya.
Sementara itu, Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan hujan ekstrem dipicu oleh fenomena gelombang ekuatorial Rossby.
“Masyarakat Bali perlu waspada potensi hujan susulan, angin kencang, dan longsor, terutama di kawasan perbukitan,” katanya.
Sekitar 200 personel SAR gabungan masih dikerahkan untuk evakuasi dan distribusi bantuan di titik-titik terdampak. Akses menuju Bandara I Gusti Ngurah Rai sempat terganggu akibat genangan air di jalan utama.











