Semarang, binnews.id – Tradisi Suronan di kawasan Tugu Soeharto, Tegalarum, Semarang, terus menjadi daya tarik masyarakat setiap malam 1 Suro. Selain ritual budaya yang telah berlangsung selama puluhan tahun, kegiatan tersebut kini semakin semarak dengan hadirnya pasar rakyat yang melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dari sekitar lokasi maupun luar daerah.
Gunawan (52), warga Tinjomoyo, menuturkan bahwa tradisi ritual Malam Suro di kawasan tersebut sudah berlangsung sejak lama dan tidak pernah terputus. Menurutnya, masyarakat dari berbagai daerah rutin datang untuk mengikuti rangkaian kegiatan yang digelar setiap tahunnya.
“Kalau ritualnya sudah dari dulu dan tidak pernah berhenti. Setiap Malam Suro pasti ramai didatangi masyarakat, termasuk dari luar Semarang. Yang baru berkembang beberapa tahun terakhir adalah pasar rakyatnya,” ujarnya, selasa (16/6).
Ia memperkirakan pasar rakyat mulai ramai sekitar tahun 2022 setelah mendapat promosi yang lebih luas. Namun, kegiatan ritual Suronan sendiri telah menjadi tradisi turun-temurun di kawasan tersebut.
Gunawan juga mengisahkan sejarah Tugu Soeharto yang diyakini berkaitan dengan Presiden RI ke-2, Soeharto, ketika masih bertugas di Kodam VII/Diponegoro di Semarang sekitar tahun 1957. Menurutnya, Soeharto kerap melakukan tirakat di lokasi itu bersama guru spiritualnya, Romo Diyat, sehingga tempat tersebut memiliki nilai historis bagi sebagian masyarakat.
Selain nilai sejarah dan budaya, penyelenggaraan Suronan juga memberikan ruang bagi pelaku UMKM untuk berpartisipasi melalui pasar rakyat yang digelar selama kegiatan berlangsung.
Salah satu crew panitia Suronan Tegalarum, Hendra, menjelaskan bahwa panitia menerapkan tarif sewa yang berbeda bagi pedagang lokal dan pedagang dari luar wilayah.
“Untuk warga sekitar dikenakan biaya sewa Rp30 ribu. Sedangkan pedagang dari luar tarifnya bervariasi, ada yang Rp60 ribu dan ada yang Rp80 ribu, tergantung lokasi yang ditempati,” jelasnya.
Menurut Hendra, proses pendaftaran bagi para pedagang biasanya dibuka sekitar 30 hari sebelum pelaksanaan acara agar panitia memiliki waktu yang cukup untuk melakukan pendataan dan penataan lokasi.
“Pendaftaran dibuka sekitar H-30 sebelum kegiatan berlangsung,” katanya.

Selain itu, untuk mendukung penyelenggaraan kegiatan, panitia juga memberlakukan tiket masuk bagi pengunjung sebesar Rp5.000 per orang. Penarikan tiket dilakukan oleh panitia sebagai bagian dari pengelolaan acara Suronan di kawasan Tugu Soeharto.
Hendra menambahkan dirinya bertugas sebagai salah satu crew panitia dalam penyelenggaraan Suronan Tegalarum, sementara kepanitiaan dipimpin oleh Ketua Panitia, Yusnan.
Dengan perpaduan antara pelestarian tradisi budaya dan pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pasar rakyat, Suronan di kawasan Tugu Soeharto tidak hanya menjadi agenda spiritual dan budaya, tetapi juga memberikan manfaat bagi warga sekitar serta pelaku UMKM yang ikut berpartisipasi setiap tahunnya.
Kehadiran ribuan pengunjung setiap perayaan Malam Suro diharapkan mampu menggerakkan perekonomian lokal sekaligus menjaga kelestarian tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. (Hrd)











