Kuningan, 2 februari 2025 – Dusun Cigerut Kulon, yang terletak di Desa Cipakem, Kecamatan Maleber, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, kini dikenal sebagai “kampung mati.” Dari 87 rumah permanen yang ada, 83 di antaranya telah kosong dan ditinggalkan penghuninya. Warga memilih pergi setelah bencana longsor memutus akses jalan menuju dusun, membuat kehidupan di sana semakin sulit.
Alasan Warga Pergi dan Mereka yang Bertahan
Longsor yang terjadi beberapa tahun lalu menjadi penyebab utama eksodus massal penduduk. Tanpa akses jalan yang layak, warga kesulitan mendapatkan kebutuhan pokok, layanan kesehatan, dan akses pendidikan bagi anak-anak mereka. Akibatnya, mayoritas dari mereka memutuskan pindah ke tempat yang lebih aman.
Namun, di balik rumah-rumah kosong yang terbengkalai, beberapa keluarga masih bertahan di Cigerut Kulon. Salah satunya adalah keluarga Teteh Intan. Ia dan keluarganya sempat pindah ke tempat relokasi, tetapi akhirnya kembali ke kampung halamannya.
“Kami sudah mencoba tinggal di tempat lain, tapi di sini kami punya kebun dan ternak. Kalau pindah, kami kehilangan mata pencaharian,” ujar Teteh Intan. “Memang sulit, tapi ini rumah kami, kami terbiasa dengan kehidupan di sini.”
Pendapat serupa diungkapkan oleh Asep, salah satu warga yang juga memilih tetap tinggal. Baginya, meskipun akses sulit, Cigerut Kulon adalah tempat yang penuh kenangan dan satu-satunya tempat yang ia miliki.
“Kalau pergi, kami harus mulai dari nol lagi. Tanah dan rumah ini milik kami, jadi sebisa mungkin kami bertahan,” katanya.
Kehidupan di Tengah Keterbatasan
Bagi para warga yang masih tinggal, kehidupan sehari-hari penuh dengan tantangan. Mereka harus berjalan jauh untuk mendapatkan kebutuhan pokok, dan ketika hujan turun, jalanan semakin sulit dilalui. Tidak ada layanan kesehatan yang mudah dijangkau, sehingga jika ada yang sakit, mereka harus mencari cara sendiri untuk mendapatkan pengobatan.
Meskipun demikian, para penghuni yang tersisa tetap berusaha menjalani hidup seperti biasa. Mereka memanfaatkan hasil kebun dan beternak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Beberapa warga berharap ada perhatian dari pemerintah untuk memperbaiki akses jalan agar kampung ini tidak sepenuhnya ditinggalkan.
“Kalau jalannya diperbaiki, mungkin yang dulu pindah bisa kembali lagi,” kata Asep. “Kami masih ingin melihat kampung ini hidup kembali.”
Cigerut Kulon kini menjadi gambaran nyata tentang bagaimana bencana alam dapat mengubah kehidupan sebuah komunitas. Meskipun banyak yang telah pergi, segelintir warga masih berjuang untuk mempertahankan kampung mereka, berharap suatu hari tempat ini bisa kembali ramai seperti dulu.
(red)











