Kairo/Gaza, binnews.id —
Upaya panjang menuju perdamaian di Jalur Gaza akhirnya menunjukkan titik terang. Media pemerintah Mesir, TV al-Qahera, melaporkan bahwa gencatan senjata tahap pertama antara Israel dan kelompok perlawanan Palestina mulai berlaku pada Kamis (9/10) pukul 09.00 GMT atau 16.00 WIB.
Namun, menurut laporan Reuters, kantor Perdana Menteri Israel menyampaikan bahwa pelaksanaan gencatan senjata baru akan dimulai setelah mendapat persetujuan resmi dari kabinet Israel.
“Kabinet akan mengadakan pertemuan Kamis malam untuk menyetujui kesepakatan gencatan senjata Gaza,” demikian pernyataan resmi yang dikutip Reuters.
Dalam tahap pertama kesepakatan, sejumlah sandera asal Israel — baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia — akan dibebaskan. Sebagai imbalannya, Israel akan membebaskan sekitar 2.000 tahanan Palestina, termasuk tahanan politik. Proses pembebasan dijadwalkan berlangsung dalam 72 jam setelah gencatan senjata efektif berlaku.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut langkah ini sebagai “kemenangan moral dan diplomatik.”
“Seluruh sandera akan dipulangkan,” ujarnya dalam pernyataan resmi.
Sementara itu, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) memastikan akan menarik pasukannya ke garis yang telah ditentukan dalam waktu 24 jam.
“IDF terus dikerahkan di wilayah tersebut dan bersiap untuk setiap perkembangan operasional. Langkah ini diambil sesuai instruksi tingkat politik dan berdasarkan penilaian situasional,” demikian pernyataan IDF.
Selain penarikan pasukan, bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza akan ditingkatkan bertahap hingga mencapai 400 truk per hari.

Dari Washington, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan dukungan terhadap kesepakatan ini.
“Ini berarti semua sandera akan segera dibebaskan, dan Israel akan menarik pasukannya ke garis yang disepakati sebagai langkah pertama menuju perdamaian yang kuat dan abadi,” tulis Trump melalui media sosialnya.
Kesepakatan ini disambut meriah oleh warga di Jalur Gaza maupun masyarakat Israel, yang berharap fase ini menjadi awal berakhirnya konflik berkepanjangan di kawasan tersebut.
Langkah diplomatik ini merupakan hasil mediasi intensif antara Mesir, Qatar, Turki, dan Amerika Serikat, yang selama berminggu-minggu berupaya menengahi kedua pihak untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata berkelanjutan.
(Red)











