Semarang – Ribuan sopir truk dari berbagai daerah di Jawa Tengah memadati Kota Semarang dan sekitarnya, Senin pagi (23/6), dalam aksi unjuk rasa besar-besaran menolak kebijakan zero Over Dimension Over Load (ODOL) yang dinilai merugikan para pengemudi.
Sejak pukul 06.00 WIB, sejumlah ruas jalan strategis seperti Jalan Letjen Suprapto Semarang, Lingkar Ambarawa, Demak, Kudus, Pati, hingga jalur Kendal, Batang, dan Pekalongan dipenuhi truk-truk yang sengaja diparkir untuk mengikuti aksi damai.
Titik Pusat Aksi di Semarang
Di Kota Semarang, aksi dipusatkan di depan Kantor Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Tengah, dengan lebih dari 1.500 sopir truk dan 1.000 unit kendaraan berkumpul. Mereka mulai bergerak dari titik kumpul awal di Jalan Siliwangi menuju Kantor Gubernur Jawa Tengah di Jalan Pahlawan sekitar pukul 09.00 WIB.
“Ini bentuk penolakan terhadap kebijakan zero ODOL yang memberatkan kami sebagai sopir. Kami datang dari berbagai daerah untuk bersatu menyuarakan nasib kami,” kata Suroso, koordinator aksi.
Para peserta membawa berbagai spanduk dan poster bertuliskan tuntutan, seperti:
“Tolak Zero ODOL!”
“Berikan Perlindungan Hukum untuk Sopir Truk!”
“Hapus Pungli di Jalanan!”
Aksi Meluas di Berbagai Daerah
Tak hanya di Semarang, aksi juga digelar serentak di berbagai wilayah Jawa Tengah:
Blora: 500 sopir dan 250 truk memulai aksi di Lapangan Kridosono pukul 10.00 WIB.
Kendal: Dimulai pukul 08.00 WIB, diikuti 30 sopir dan 10 truk.
Kabupaten Semarang: Titik kumpul di Terminal Bawen dan Lingkar Ambarawa, diikuti 150 sopir dan 100 truk.
Magelang & Kota Magelang: 150 sopir dan 51 truk berangkat sejak pukul 01.00 WIB.
Demak: Sekitar 100 sopir dan 60 truk bergerak dari Terminal Baru pukul 06.00 WIB.
Salatiga & Pati: Puluhan truk dan sopir bergabung menuju Semarang dalam konvoi bersama.
Tuntutan dan Harapan
Adapun tuntutan utama para sopir meliputi:
Penghentian penindakan terhadap truk ODOL
Peninjauan ulang regulasi angkutan barang logistik
Revisi UU No. 22 Tahun 2009 tentang LLAJ
Perlindungan hukum terhadap sopir
Pemberantasan pungli dan premanisme di jalur logistik
Tanggapan Dishub Jateng
Erry Derima Ryanto, Kepala Bidang Lalu Lintas Darat Dishub Jateng, menyampaikan imbauan agar masyarakat menghindari penggunaan kendaraan pribadi selama aksi berlangsung dan beralih ke transportasi umum seperti Trans Semarang.
“Kami siap menampung aspirasi sopir dan meneruskannya ke pemerintah pusat. Kebijakan ODOL memang wewenang nasional, namun daerah tetap punya tanggung jawab mendengar,” ujar Erry.
Aksi ini menjadi sinyal kuat bahwa kebijakan ODOL memicu resistensi luas dari pelaku transportasi logistik. Para sopir berharap ada solusi realistis dan dialog terbuka antara pemerintah pusat dan perwakilan pengemudi untuk menyelesaikan persoalan ini secara adil, tanpa mematikan mata pencaharian jutaan sopir dan keluarga mereka.











